- Konsep Sehat
Dalam sejarah kehidupan manusia
istilah sehat dan sakit dikenal di semua kebudayaan. Sehat dan sakit ,keadaan
ini adalah suatu kondisi yang dapat kita rasakan dan kita amati dalam kehidupan
sehari-hari. Hal ini akan mempengaruhi pemahaman dan pengertian seseorang
terhadap konsep sehat. Sebagian masyarakat juga beranggapan bahwa anak yang
gemuk adalah anak yang sehat meskipun jika mengacu pada standard gizi
kondisinya berada dalam status gizi lebih atauoverweight. Jadi factor
subyektifitas dan kultural juga mempengaruhi pemahaman dan pengertian mengenai
konsep sehat yang berlaku dalam masyarakat.Kondisi sehat dan sakit pada manusia
merupakan suatu kontinum, sehingga sangat sulit memberikan batasan yang jelas
saat melakukan evaluasinya. Akan tetapi, mengamati fenomena tersebut, maka
diyakini taraf kesehatan seseorang dapat ditingkatkan bahkan dioptimalkan. Hal
inilah yang mendasari Gerakan Kesehatan Mental dewasa ini. Tidak hanya
memandang bagaimana seseorang sembuh dari sakitnya, tetapi bagaimana
meningkatkan taraf kesehatan seseorang menjadi lebih optimal.Sehat (Health)
secara umum dapat dipahami sebagai kesejahteraan secara penuh (keadaan
yang sempurna) baik secara fisik, mental, maupun social, tidak hanya terbebas
dari penyakita atau keadaan lemah. Sedangkan di Indonesia, UU Kesehatan No
23/1992menyatakan bahwa sehat adalah suatu keadaan sehat secara fisik, mental,
dan social dimana memungkinkan setiap manusia untuk hidup produktif baik secara
social maupun ekonomis.World Health Organization (WHO, 2001),menyatakan bahwa
kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu,
yang didalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola kehidupannya yang
wajar, untuk bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta beperan serta di
komunitasnya.
Pengertian sehat yang
dikemukakan oleh WHO ini merupakan suatu kadaan ideal, di sisibiologis,
psikologis dan social sehingga seseorang dapat melakukan aktifitas secara
optimal. Definisi sehat yang dikemukakan oleh WHO mengandung 3 karakteristik,
yaitu: 1.Merefleksikan perhatian pada individu sebagai manusia, 2.Memandang
sehat dalam konteks lingkungan internal dan eksternal, 3.Sehat diartikan sebagai hidup yang kreatif
dan produktif. Sehat bukan merupakan suatu kondisi tetapi merupakan
penyesuaian, dan bukan merupakan suatu keadaan tetapi merupakan proses dan yang
dimaksud dengan proses disini adalah adaptasi individu yang tidak hanya
terhadap fisik mereka tetapi terhadap lingkungan sosialnya.Jadi dapat dikatakan
bahwa batasan sehat menurut WHO meliputi fisik, mental dan social. Sedangkan
batasan sehat menurut Undang-undang Kesehatan meliputi fisik (badan), mental
(jiwa), social dan ekonomi. Sehat fisik yang dimaksud disini adalah tidak
merasa sakit dan memang secara klinis tidak sakit, semua organ tubuh normal dan
berfungsi normal dan tidak ada gangguan fungsi tubuh. Sehat mental
(jiwa) mencakup: 1.Sehat pikiran tercermin dai cara berpikir seeorang
yakni mampu berpikir secara logis (masuk akal) atau berpikir runtut, 2.Sehat
Spiritual tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur,
pujian, atau penyembahan terhadap pencinta alam dan seisinya yang dapat dilihat
dari praktek keagamaan dan kepercayaan serta perbuatan baik yang sesuai dengan
norma-norma masyarakat, 3.Sehat Emosional tercermin dari kemampuan seseorang
untuk mengekspresikan emosinya atau pengendalan diri yang baik.
- Sejarah Kesehatan Mental
1.
Tahap Demonology
Sebelum abad pertengahan)Kesehatan
mental dikaitkan dengan kekuatan gaib, kekuatan spiritual, setan dan makhluk
halus, ilmu sihir, dan sejenisnya. Gangguan mental terjadi akibat kegiatan yang
menentang kakuatan gaib tersebut. Sehingga bentuk penanganannya, tidak ilmiah
dan kurang manusiawi, seperti:upacara ritual, penyiksaan atau perlaukuan
tertentu terhadap penderita dengan maksud mengusir roh jahat dari dalam tubuh
penderita.
2.
Tahap Pengenalan Medis (4 abad SM-
abad ke6 SM)
Mulai 4 abad SM munsul tokoh-tokoh
bidang medis(Yunani): Hipocrates, Hirophilus Gelenus, Vesalinus, Paracelsus,
dan Cornelius Agrippa, mulai menggunakan konsep biologis yang penanganannya
lebih manusiawi. Gangguan mental disebabkan gangguan biologis atau kondisi
biologis seseorang, bukan akibat roh jahat. Mendapat pertentangan keras dari
aliran yang menyakini adanya roh jahat.
3.
Tahap Sakit Mental dan Revolusi
Kesehatan Mental
Mulai muncul pada abad ke-17:
Renaissance (revolusi Prancis), dengan tokohnya: Phillipe pinel. Mengutamakan
persamaan, kebebasan, dan persaudaraan dalam penanganan pasien gangguan mental
di rumah sakit secara manusiawi. Terjadi perubahan dalam: pemikiran mengenai
penyebab gangguan mental dan cara penanganan dan upaya penyembuhan.
4.
Tahap Pengenalan Faktor Psikologis
(abad ke-20)
Merupakan Revolusi Kesehatan Mental
ke-2: munculnya pendekatan psikologis (psikoanalisa) yang mempelopori
penanganan penderita gangguan mental secar medis dan psikologis. Tokoh utamanya
adalah Sigmun Freud, yang 4 kesehatan mental melakukan: penanganan hipnose,
katarsis, asosiasi bebas, analisis mimpi. Tujuannya adalah mengatasi maslah
mental individu dengan menggali konflik intrapsikis penderita gangguan mental.
Intervensi tersebut dikenal dengan istilah penanganan klinis (psikoterapi).
5.
Tahap Multifaktorial
Mulai berkembang setelah perang dunia
ke II. Kesehatan mental dipandang tidak hanya dari segi psikologis dan medis,
tetapi melibatkan factor interpersonal, keluarga, masyarakat, dan hubungan
social. Interaksi semua factor tersebut diyakini mempengaruhi kesehatan mental
individu dan masyarakat. Merupakan revolusi ke-3 Gerakan Kesehatan Mental
dengan tokohnya: Whittingham Beers (buku “A Mind That Found It Self”), William
James, dan Adolf Mayer.
- Perbedaan Model Kesehatan Barat dan Timur
- Model Barat
a.
Model Biomedis
(Fruend,1991)Dipengaruhi
oleh filosofi Yunani (Plato dan Aristoteles). Manusia terdiri dari tubuh dan
jiwa. Ditambah dengan perkembangan biologi, prnyakit dan semata-mata
dihubungkan dengan tubuh saja. Semboya “Men Sana In Corpore
Sano”. Memiliki 5 asumsi: (Freund,1991)·Terdapat perbedaan nyata antara
tubuh dan jiwa sehingga penyakit diyakini berada pada satu bagian tubuh
tertentu. Penyakit dapat direduksi pada gangguan fungsi tubuh. Penyakit
disebabkan oleh suatu penyebab khusus yang secara potensial dapat
diidentifikasi. Tubuh seperti sebuah mesin. Tubuh adalah objek yang perlu
diatur dan dikontrol.
b.
Model Psikiatris
(Helman,1990)Penggunaan
berbagai model untuk menjelaskan penyebab gangguan mental.
a) Model organic:
menekankan pada perubahan fisik dan biokimia di otak.
b) Model psikodinamik:
berfokus pada factor perkembangan dan pengalaman.
c) behavioral: psikosis terjadi karena
kemunginan kemungkinan lingkungand. Model
social: menekankan gangguan dalam konteks performansnya
c.
Model Psikosomatis
(Tamm, 1993)Muncul karena
ketidakpuasan dengan model biomedis. Dipelopori oleh Helen Flanders Dunbar (1930-an).
Tidak ada penyakit fisik tanpa disebabkan oleh anteseden emosioanal dan social.
Sebaliknya tidak ada penyakit psikis yang tidak disertai oleh simtom somatic.
Penyakit berkembang melalui saling terkait secara berkesinambungan antara
factor fisik dan mental yang saling memperkuat satu sama lain melalui jaringan
yang kompleks.
B. Model Timur
Lebih bersifat holistic
(Joesoef,1990)
a)
Holistic Sempit
Organisme manusia dilihat
sebagai suatu system kehidupan yang semua komponennya saling terkait dan saling
tergantung.
b)
Holistic Luas
System tersebut merupakan suatu bagian
integral dari system-sistem yang lebih luas, dimana organisme individual
berinteraks terus menerus dengan lingkungan fisik dan sosialnya yaitu tetap
terpengaruh oleh lingkungan tapi juga bisa mempengaruhi dan mengubah
lingkungan.
SUMBER
fakhrurrozi.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/24029/KesMen.ppt
(diunduh pada 28 Maret 2015)
http://www.uin-alauddin.ac.id/artikel-79-konsep-sehat-dan-sakit.html
(diunduh pada 28 Maret 2015)
Dewi, Kartika Sari. 2012. Kesehatan
Mental. Semarang: UPT UNDIP Press Semarang.
Nama : Claudya Helena
NPM : 11513958

0 komentar:
Posting Komentar