Selasa, 21 Juni 2016

HUMANISTIK

Diposting oleh Unknown di 04.27 0 komentar
Humanistik
Pada akhir tahun 1940-an muncullah suatu perspektif psikologi baru. Orang-orang yang terlibat dalam penerapan psikologi yang berjasa dalam perkembangan ini,. Gerakan ini kemudian dikenal sebagai psikologi humanistik, eksestensi ceptual atau fenomenologikal. Psikologi ini berusaha untuk memahami perilaku seseorang dari sudut si pelaku, bukan dari pengamat.[2]
2.      Pengertian Humanisme
Konsep dari teori Humanisme ini bersumber dari salah satu aliran filsafat modern eksistensialisme. Aliran ini menolak paham yang menyatakan bahwa manusia hanya semata hasil bawaan atau lingkungan sepenuhnya.
Sebaliknya ,aliran ini menyatakan bahwa setiap individu memiliki kebebasan  untuk memilih , menentukan tindakannya dan nasibnya sebagai konsekuensi  atas eksistensinya. Namun bagaimanapun, kebebasan untuk memilih itu tidak bisa diartikan dan tak bisa menjamin bahwa setiap individu itu dapat menentukan pilihan dan berbuat yang terbaik. Karena jika demikian, manusia tidak akan mengalami keputusasaan, kesengsaraan, serta penderitaan-penderitaan lain dalam hidupnya.
Yang menjadi persoalan utama dari aliran ini adalah bagaimana individu itu dapat mengungkapkan segala potensi yang dimilikinya sehingga ia dapat memperoleh kehidupan yang sejati. Agaknya, pandangan aliran ini mengenai kebebasan individu dalam tindakanya menjadi daya tarik tersendiri bagi para ahli kepribaian humanistik. Mereka menekankan bahwa individu adalah sebagai penentu tingkah laku dan pengalamnnya sendiri. Bagi para tokoh kepribadian ini, pengalaman subjektif itu lebih diutamakan daripada tingkah laku yang tampak pada individu.
Konsep selanjutnya dari teori humanisme yaitu konsep kemenjadian (becoming), konsep yang juga bersumber dari aliran eksistensialisme. Dalam konsep ini, manusia itu terus bergerak dan berproses menuju perubahan utuk menjadi sesuatu yang lain dari sebelumnya. Tetapi perubahan ini dapat terjadi apabila lingkungan memungkinkan. Kesulitan ini terutama disebabkan adanya perubahan dan hambatan yang bersifat kultural.

3.      Ajaran dan dasar teori humanistik
a)      Individu sebagai satu kesatuan dan bersifat menyeluruh
Maslow menganut prinsip holistik, yaitu sebuah prinsip yang mayakini suatu fenomena atau gejala itu hanya bisa dipelajari jika bersifat menyeuruh dan bersifat integral. Untuk itulah, teori kepribadian humanistik mengemukakan bahwa manusia atau individu itu harus dipelajari dengan dan cara menyeluruh, bukan memisahkannya menjadi beberapa elemen.
Maka dalam teorinya, Maslow menyatakan bahwa motivasi itu mempengaruhi individu secara keseluruhan, bukan hanya bagian-bagian tertentu saja. Contohnya : Semisal kita lapar, yang menyebabkan dorongan (motivasi) itu bukan hanya perut , melainkan diri kita (manusia). Makanan memuaskan kita, bukan perut kita
b)      Ketidak relevanan Penyelidikan dengan Hewan
Pada dasarnya, ajaran dalam teori ini menentang teori behaviorisme yang menyelidiki tingkah laku hewan untuk mengetahui tingkah laku manusia. Maslow mengingatkan bahwaada perbedaan yang mendasar antara manusia dengan hewan, karena manusia lebih dari sekedar hewan. Ketidakrelevanan ini disebabkan karena dapat mengabaikan ciri khas yang melekat pada manusia seperti nilai-nilai, gagasan, ide yang kesemuanya itu yang dapat menciptakan suatu yang baru.’
Ajaran ini didukung oleh fakta dengan tidak adanya ahli kepribadian tikus, kucing, atau yang lain, yang ada hanyalah ahli kepribadian manusia. Hanya manusialah yang dapatdijadikan subjek untuk memahami tingkah laku manusia, bukan hewan ataupun sesuatu yang lain.
c)      Pembawaan Baik Manusia
Ajaran lain dari teori ini menyatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah baik. Adapun kejahatan atau keburukan yang ada dalam diri manusia itu disebabkan karena pengaruh lingkungan yang buruk, bukan bawaan.
d)     Potensi kreatif manusia
Kretifitas merupakan ajaran yang penting dalam teori kepribadian humanistik. Potensi kreatif adalah potensi umum yag dapat dimiliki setiap individu. Maslow yakin bahwa orang yang memiliki kesempatan dan berada dalam lingkungan yang memungkinkan akan dapat mengungkapkan segenap potensinya dan kreatifitasnya.
Untuk menjadi kreatif, tidak perlu memiliki bakat atau kemampuan khusus. Bagi maslow, kreatifitas adalah bagaimana seseorang itu mampu mengekspresikan dirinya untuk menjadi apa yang dia inginkan.
4.      Teori kebutuhan bertingkat / Hierarki Kebutuhan
a.       Kebutuhan fisiologis
Adalah sekumpulan kebutuhan-kebutuhan dasar yang paling penting untuk segera dipenuhi karena terkait dengan kelangsungan hidup manusia seperti, makanan, udara, air dan yang lain. Jika kebutuhan ini belum terpenuhi, maka individu tidak akan tergerak untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan diatasnya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukannya, Maslow yakin ini semua adalah kebutuhan-kebutuhan individual. Kalau anda kekurangan vitamin C, misalnya, anda akan sangat menginginkan bahan makanan yang mengandung vitamin C.
b.      Kebutuhan rasa aman
Setelah keperluan ini dicapai, manusia akan mencari keselamatan hidup, kestabilan kerja, jagaan masyarakat, undang – undang serta membebaskan diri daripada ancaman luar maupun dalam. Anda akan semakin ingin meenemukan situasi dan kondisi yang aman, stabil dan trlindung. Tahap keselamatan ini amat diperlukan bagi menjamin kesejahteraan hidup.
c.       Kebutuhan kasih sayang
Dalam memenuhkan kepenuhan kasih sayang pula, manusia perlukan hubungan dengan insan lain, kita semua pada asasnya ialah hewan yang bersosial. Kebutuhan ini dapat diekspresikan dalam berbagai cara, seperti: persahabatab, percintaan, atau pergaulan yang lebih luas. Melalui kebutuhan ini seseorang mencari pengakuan, dan curahan kasih sayang dari orang lain, baik dari orang tua, saudara, guru, pimpinan, teman, atau yang lainnya.
d.      Kebutuhan penghargaan diri
Maslow mengatakan bahwa ada dua bentuk kebutuhan terhadap harga diri ini: Bentuk yang lemah dan yang kuat. Bentuk yang lemah adalah kebutuhan kita untuk diharagai prang lain, kebutuhan terhadap status, kemuliaan, kehormatan, perhatian, reputasi, apresiasai bahkan dominasi.
Sementara yang kuat adalah kebutuhan kita untuk percaya diri, kompetensi, kesuksesan, independensi dan kebebasan. Bentuk kedua ini lebih kuat karena sekali didapati kita tidak mudah melepaskannya, berbeda dengan kebutuhan kita akan penghargaan orang lain. Bentuk negatif dari kebuthan harga diri ini adalah rendah diri dan kompleks inferioritas.[3]
e.       Kebutuhan kognitif
Secara alamiah manusia memiliki hasrta ingin tahu ( memperoleh pengetahuan, atau pemahaman tentang sesuatu). Hasrat ini mulai berkembang sejak akhir usia bayi dan awal masa anak, yang diekspresikan sebagai rasa ingin tahunya dalam bentuk pengajuan pertanyaan tentang berbagai hal, baik diri maupun lingkungannya. Rasa ingin tahu ini biasanya terhambat perkembangan oleh lingkungan, baik keluarga maupun sekolah. Kegagalan dalam memenuhi kebutuhan ini akan menghambat pencapaian perkembangan kepribadian secara penuh.
f.       Kebutuhan Estetika
Kebutuhan estetik merupakan ciri orang yang sehat mentalnya. Melalui kebutuhan inilah manusia dapat mengembangkan kreatifitasnya dalam bidang seni (lukis, rupa, paung, dan grafis), arsitektur, tata busana, dan tata rias.
g.      Kebutuhan Aktualisasi Diri
Kebutuhan ini punxcak dari hierarki kebutuhan manusia yaitu perkembangan atau perwujudan potensi dan kapasitas secara penuh. Maslow berpendapat bahwa manusia dimotivasi untuk menjadi segala sesuatu yang dia mampu untuk menjadi itu.
Kebutuhan-kebutuhan aktualisasi diri ini tidak memerlukan penyeimbangan atau homeostasis. Sekali diperoleh, dia akan terus dirasakan. Kebutuhan ini memang akan meningkat kalu kita menebarnya. Kebutuhan-kebutuhan ini mencakup hasrat untuk terus-menerus mewujudkan potensi-potensi diri, keinginan untuk menjadi apa yang anda bisa. Kebutuhan ini lebih merupakan persoalan menjadi yang sempurna, menjadi anda yang sebenarnya.

KASUS LOGOTERAPI
Kasus:
Kasus yang akan saya tulis mengenai kasus Pasca Traumapada awalnya “R” memiliki seorang sahabat sekaligus kekasihnya. Lalu Rmengalami kecelakaan sehingga dia kehilangan seseorang yang berarti baginya karena dirinya. Seketika Rsyok beberapa waktu karena dia tak dapat menghadirkan kembali sesuatu yang sudah tiadaPada akhirnya R mengalami depresi, hingga traumaterhadap kendaraanserta marah akan setiap perbuatannya, bahkan tidak dapat menerima keadaan sampai satuhari R ingin bunuh diri karena merasa dirinya sudah tidak ada gunanya lagi.
Subjek sangat marah hingga memutuskan berhenti berhubungandengan orang lain di kehidupannya. Subjek menjadi lebih tertutup dari teman-temannya bahkan keluarganya. Subjek sangat merasa depresi dan shock hingga sangat membutuhkan banyak bantuan.Tidak hanya itu Rmerasa kejadian yang ia alami adalahkesalahan dirinya, dan menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi pada dirinya mengapa bukan dia yang meninggal saat itu.
Analisa:
Pembahasan Untuk menolongR dari apa yang dialaminya, langkah pertama adalah Intensi Paradoksikal. Teknik intensi paradoksikal adalah teknik dimana R diajak melakukan sesuatu yang paradoks dengan sikapsebagai klien terhadap situasi yang dialami. Jadi R diajak mendekati danberfkir ulang akan sesuatu (gejala) dan bukan menghindarinya atau melawannya.
Langkah kedua Derefleksi Frankl percaya, bahwa sebagian besar persoalan kejiwaan berasal dari perhatian yang terlalu fokus pada diri sendiri. Oleh sebab itu R tidak boleh berfokus pada kejadian yang dialaminya tetapi bukan berarti menghindari masalah tersebut.
Misalnya mengalihkan perhatian dari diri sendiri dan mengarahkannya pada sesuatu yang disenangi dulu sebelum mengalami kecelakaan oleh diri R sendiri.Langkah yang terakhiradalahbimbingan Rohani. Bimbingan rohani adalah metode yang khusus digunakan terhadap pada penanganan kasus dimana individu berada pada penderitaan yang tidak dapat terhindarkan, atau dalam suatu keadaan yang tidak dapat dirubahnya dan tidak mampu lagi berbuat selain menghadapinya.
Pada metode ini, individu didorong untuk merealisasikan nilai bersikap dengan menunjukkan sikap positif terhadap penderitaanya. Dalam rangka menemukan makna di balik penderitaan tersebut. Subjek R harus berfikir kalo kecelakaan yang dialami adalah murni kecelakaan yang tidak bisa menyalahkan Tuhan sebagai penyebabnya. Tetapi seharusnya Rpercaya kalo kecelakaan ini akan membuat Rmenjadi manusia yanglebih baik lagi dari pada sebelumnya. Dan percaya kalo Tuhan akan membantu setiap masalah yang dihadapi oleh R sendiri dan jika R dapat menjalani hidupnya kembali.Maka R mungkin akan mendapat hal-hal yang lebih baik lagi jika dia menjalani hidup bukan hanya meratapi apa yang sudah terjadi.
Frankl menyatakan bahwa makna hidup bersifat unik sebagai momen pribadi. Setiap situasi serta setiap kejadian selalu dapat menghadirkan suatu tantangan kepada individu untuk mengungkap dan menjadikan makna. Melalui peristiwa kecelakaan yang terjadi pada subjek terlihat bahwa makna hidup dapat ditemukan dalam setiap keadaan walaupun pada keadaan penderitaan sekalipun.

Rabu, 30 Maret 2016

Psikologi Eksperimen

Diposting oleh Unknown di 09.04 0 komentar
Psikologi Eksperimen

Topik              : Suhu Tinggi
Masalah         : “Apakah suhu tinggi dapat menyebabkan prilaku agresif?”

Hipotesis
   Hipotesis Ilmiah
Hipotesis Umum      : Suhu tinggi dapat  menyebabkan prilaku agresif.
Hipotesis Eksplisit   : Subjek yang berada di tempat dengan suhu yang tinggi
memiliki tingkat agresif yang lebih tinggi dibandingkan subjek yang tidak berada di tempat dengan suhu yang tinggi.

   Hipotesis Statistik
Ha                               : Subjek yang berada di tempat dengan suhu yang tinggi
memiliki tingkat agresif yang lebih tinggi secara signifakan dibandingkan subjek yang tidak berada di tempat dengan suhu yang tinggi.
Ho                               : Subjek yang berada di tempat dengan suhu udara yang tinggi
memiliki tingkat agresif yang tidak berbeda secara signifakan dibandingkan subjek yang tidak berada di tempat dengan suhu yang tinggi.


Variabel
   Variable Bebas       : Suhu Tinggi
-    Variasi                        : Ada-Tidak ada, yaitu subjek ditempatkan pada ruangan yang
bersuhu tinggi dan ditempatkan pada ruangan yang bersuhu rendah.
-   Manipulasi                  : Manipulasi kejadian, dengan cara menempatkan kelompok subjek
pada ruangan sempit yang fentilasi udaranya kecil dan menempatkan kelompok yang lain pada ruangan sempit yang fentilasi udaranya besar dan banyak.

   Variable Terikat      : Perilaku Agresif
-    Jenis Pengukuran   : Perilaku yang tampak
-    Cara Pengukuran    : Jawaban Pasti, yaitu melalui skala Guttman akan diperoleh
jawaban yang tegas, yaitu “ya-tidak”. Pernyataan dalam instrumen berupa pernyataan positif dan penyataan negatif. Untuk setiap pernyataan positif diberi skor 1 untuk yang menjawab “ya” dan 0 untuk yang menjawab “tidak”. Sedangkan setiap penyataan negatif diberi skor 0 untuk yang menjawab “ya” dan skor 1 untuk yang menjawab “tidak”.

 Variabel Sekunder    :
  Jenis Kelamin (dikontrol dengan teknik blocking, yaitu jumlah laki-laki dan perempuan sama pada setiap kelompok).
  Tingkat Pendidikan (dikontrol dengan teknik konstansi, yaitu memilih subjek dengan tingkat pendidikan yang sama).
  Status sosial ekonomi (dikontrol dengan teknik randomisasi, yaitu secara acak memasukkan subjek ke dalam KE dan KK).
  Usia (dikontrol dengan teknik konstansi, yaitu memilih subjek dengan usia yang sama).
  Ruangan (dikontrol dengan teknik konstansi, ukuran ruangan yang digunakan untuk KE dan KK sama-sama berukuran sempit)
  Waktu didalam ruangan (dikontrol dengan teknik konstansi, yaitu lamanya waktu nya sama bagi semua subjek sekitar 60 menit).
  Kegiatan relaksasi lain ( dikontrol dengan teknik konstansi, yaitu semua subjek tidak diperbolehkan mengikuti kegiatan relaksasi lain selama penelitian).

Tipe dan Desain Penelitian
   Tipe Penelitian         : Controlled Laboratory Experiment
   Desain Penelitian    : Desain 2 kelompok (desain antar-kelompok)

Perencanaan Penelitian
   Subjek                       : Siswa SMK yang duduk di kelas X yang berjenis kelamin Laki-laki
dan Perempuan. Jumlah subjek yang dibutuhkan adalah 20 orang dengan jumlah laki-laki dan perempuan masing-masing 10 orang.
  Peralatan                    : Skala agresi guttman, ruang berfentilasi dan kursi.
   Prosedur
-20 subjek di peroleh dari hasil pengundian dari seluruh siswa kelas X suatu SMK dengan jumlah masing-masing subjek laki-laki dan perempuan berjumlah genap.
-Kemudian dilakukan pengundian untuk memasukkan subjek laki-laki dan perempuan ke dalam 2 kelompok (KE dan KK), sehingga kedua kelompok terdiri dari subjek laki-laki dan perempuan dengan jumlah yang sama.
-Setelah itu, kedua kelompok subjek ditempatkan pada ruangan yang sudah disiapkan. -Pada kelompok eksperimen, ruangan yang disiapkan tidak memiliki fentilasi yang besar dengan suhu tinggi dan tidak diberikan kursi.
-Pada kelompok control ruangan yang disiapkan memiliki fentilasi besar dengan suhu rendah dan diberikan kursi.
-waktu masing masing kelompok di dalam ruangan yaitu 60 menit
-Kemudian setelah selesai subjek pada kedua kelompok diminta untuk mengisi kuesioner skala agresi Guttman.
-Skor dari setiap subjek diperbandingkan dengan analisis statistik dan di lihat dari observasi . 


Senin, 25 Januari 2016

Psikologi Managemen

Diposting oleh Unknown di 17.12 0 komentar
Komunikasi dalam Organisasi

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas individu pada mata kuliah
“Psikologi Manajemen”

Dosen Pengampu:
Rizki Intansari Nugraheni



Disusun Oleh :
Claudya 11513958

SEMESTER V
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA

DEPOK
2015


Definisi Komunikasi
Secara etimologis kata komunikasi berasal dari bahasa Latin communicatio,dari kata yang berarti berpartisipasi atau memberitahukan. Kemudian dlm bhs. Latin communicatus, yang artinya berbagi atau milik bersama. Atau dari kata communis  berarti milik bersama atau berlaku dimana-mana, sehingga kata communis opinion mempunyai arti pendapat umum atau pendapat mayoritas (Liliweri, Alo. 1991:3).Adapun dalam literatur ilmiah ditemukan sangat banyak definisi komunikasi oleh para ahli. Diantaranya adalah definisi Harold D. Laswell  (Liliweri, 1991:7)yang mendefinisikan komunikasi yaitu "who says what ini which channel to whomwith what effect". Kemudian definisi Hovland (1948) mengatakan bahwa "Communication as the process by which an individual (the communicator) transmits   stimuli (usually  verbal  symbol) to modify the behavior of the other individuals (communicant)". Sedangkan Hick dan  Gullett (1996 : 322) mengemukakan :" Communication is the transfer and under standing from one person to another”. pemahaman bersama melalui pertukaran pesan. Komunikasi sebagai kata kerja (verb) dalam bahasa Inggris, “communicate”, berarti (1) untuk bertukar pikiran-pikiran, perasaan-perasaan dan informasi; (2) untuk membuat tahu; (3) untuk membuat sama; dan (4) untuk mempunyai sebuah hubungan yang simpatik. Sedangkan dalam kata benda (noun), “communication”, berarti : (1) pertukaran simbol, pesan-pesan yang sama, dan informasi; (2) proses pertukaran diantara individu-individu melalui simbol-simbol yang sama; (3) seni untuk mengekspresikan gagasan-gagasan, dan (4) ilmu pengetahuan tentang pengiriman informasi (Stuart, 1983, dalam Vardiansyah, 2004).

Definisi Organisasi
         Stoner mengatakan bahwa organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan atasan mengejar tujuan bersama. James D. Mooney mengemukakan bahwa organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
    Stephen P. Robbins menyatakan bahwa Organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.
       Prof Dr. Sondang P. Siagian, mendefinisikan organisasi ialah setiap bentuk persekutuan antara dua  orang atau lebih yang bekerja bersama serta secara formal terikat dalam rangka pencapaian suatu tujuan yang telah ditentukan dalam ikatan yang mana terdapat seseorang / beberapa orang yang disebut atasan dan seorang / sekelompok orang yang disebut dengan bawahan.
      Dari beberapa pengertian tentang organisasi diatas dapat disimpulkan bahwa, organisasi adalah suatu kelompok orang dalam suatu wadah untuk tujuan bersama.

Definisi Komunikasi Organisasi
        Goldhaber (1986), memberikan pengertian komunikasi organisasi yang artinya sebagai berikut, Komunikasi organisasi yaitu proses menciptakan dan saling menukar pesan dalam satu jaringan hubungan yang saling tergantung satu sama lain untuk mengatasi lingkungan yang tidak pasti atau yang selalu berubah-ubah. Sama dengan pemaknaan organisasi, dalam memaknai akan pengertian komunikasi itu sendiri banyak para ahli yang mencoba memberikan pengertiannya dengan persepsi mereka masing-masing. Termasuk diantara yaitu persepsi Redding dan Sanborn, mereka mengatakan bahwa komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan informasi dalam organisasi yang kompleks. 
        Sedangkan Katz dan Kahn mengatakan bahwa komunikasi organisasi merupakan arus informasi, pertukaran informasi dan pemindahan arti di dalam suatu organisasi. Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi (Wiryanto, 2005). Komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di dalam organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi. Misalnya: memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan surat-surat resmi. Adapun komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara sosial.Orientasinya bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada anggotanya secara individual.

Proses Komunikasi
Sistem komunikasi organisasi mencerminkan berbagai macam individu dengan latar belakang, pendidikan, kepercayaan, kebudayaan, keadaan kejiwaan, dan kebutuhan yang berbeda-beda. Model komunikasi antar pribadi menunjukkan tiga unsur esensi komunikasi yaitu pengirim, berita dan penerima. Bila salah satu unsur hilang, komunikasi tidak dapat berlangsung. Model proses komunikasi yang lebih terperinci, dengan unsur-unsur penting yang terlihat dalam komunikasi antara dan di antara para anggota organisasi, yaitu :
1.      Sumber (source)
2.      Pengubahan berita ke dalam sandi/ kode (encoding)
3.      Pengiriman berita (transmitting the message)
4.      Penerimaan berita
5.      Pengartian atau penerjemahan kembali berita (decoding)
6.      Umpan balik (feedback)


Jenis-jenis Komunikasi Dalam Organisasi
jenis-jenis komunikasi dalam organisasi terdiri dari:

1.Komunikasi Internal
Adalah komunikasi yang terjadi dalam organisasi itu sendiri. Misalnya, Pertukaran gagasan di antara para administrator dan karyawan dalam suatu perusahaan, dalam struktur lengkap yang khas disertai pertukaran gagasan secara horisontal dan vertikal di dalam perusahaan, sehingga pekerjaan berjalan [operasi dan manajemen]. Komunikasi internal terdiri dari dua dimensi yakni komunikasi vertical, dan komunikasi horizontal.
a.    Komunikasi Vertikal
Komunikasi dari pimpinan ke staff, dan dari staf ke pimpinan dengan cara timbal balik [two way traffic communication]. Komunikasi vertical ada dalam bentuk komunikasi kebawah dan komunikasi keatas. Fungsi komunikasi kebawah antara lain :
1)   Melaksanakan kebijaksanaan, prosedur kerja, peraturan, instruksi, mengenai pelaksanaan kerja bawahan.
2)    Menyampaikan pengarahan doktrinasi, evaluasi, teguran.
3)   Memberikan informasi mengenai tujuan organisasi, kebijaksanaan-kebijaksaan organisasi, insentif
Seorang pimpinan harus lebih memperhatikan komunikasi dengan bawahannya, dan memahami cara-cara mengambil kebijaksanaan, terhadap bawahannya.Keberhasilan organisasi dilandasi oleh perencanaan yang tepat, dan seorang pimpinan organisasi yang memiliki jiwa kepemimpinan. Kedua hal terseut merupakan modal utama untuk kemajuan organisasi yang dipimpinnya. Contoh : pimpinan memberikan instruksi, petunjuk, informasi, penjelasan, perintah, pengumuman, rapat, majalah intern.
Sedangkan fungsi komunikasi keatas antara lain :
1)   Memberikan pengertian mengenai laporan prestasi kerja, saran, usulan, opini, permohonan bantuan, dan keluhan.
2)   Memperoleh informasi dari bawahan mengenai kegiatan dan pelaksanaan pekerjaan bawahan dari tingkat yang lebih rendah.
Bawahan tentulah berharap agar ide, saran, pendapat, tanggapan maupun kritikannya dapat diterima dengan lapang dada, dan hati terbuka oleh pimpinan. Contoh : staf memberikan laporan, saran-saran, pengaduan, kritikan, kotak saran, dsb kepada pimpinan.
b.    Komunikasi horizontal
Bentuk komunikasi secara mendatar, diantara sesama karyawan dsbnya. Komunikasi horizontal sering kali berlangsung tidak formal.
Fungsi komunikasi horizontal/ke samping digunakan oleh dua pihak yang mempunyai level yang sama. Komunikasi ini berlangsung dengan cara tatap muka, melalui media elektronik seperti telepon, atau melalui pesan tertulis.
c.    Komunikasi Diagonal (Cross Communication)
Komunikasi antara pimpinan seksi/bagian dengan pegawai seksi/bagian lain.

2. Komunikasi Eksternal
Komunikasi antara pimpinan organisasi [perusahaan] dengan khalayak umum di luar organisasi.

Empat Jenis Arah Komunikasi Dalam Organisasi
1.     Komunikasi ke atas
     Komunikasi ke atas dalam organisasi merupakan jenis informasi yang mengalir dari tingkat bawahan ke tingkat yang lebih tinggi (atasan). Komunikasi ke atas penting karena beberapa alasan, diantara alasan itu ialah:
1. Aliran informasi ke atas memberi informasi berharga untuk pembuatan keputusan oleh  mereka yang mengarahkan organisasi dan mengawasi kegiatan orang-orang lainnya.
2. Komunikasi ke atas memberitahukan kepada penyelia kapan bawahan mereka siap menerima informasi dari mereka dan seberapa baik bawahan menerima apa yang dikatakan kepada mereka.
3. Komunikasi ke atas memungkinkan bahkan mendorong omelan dan keluh kesah muncul ke permukaan sehingga penyelia tahu apa yang mengganggu mereka yang paling dekat dengan operasioperasi sebenarnya.
4 Komunikasi ke atas menumbuhkan apresiasi dan loyalitas ke pada organisasi dengan memberi kesempatan kepada pegawai untuk mengajukan pertanyaan dan menyumbang gagasan serta saran-saran mengenai operasi organisasi.
5. Komunikasi ke atas mengizinkan penyelia untuk menentukan apakah bawahan memahami apa yang diharapkan dari aliran informasi ke bawah.
6. Komunikasi ke atas membantu pegawai mengatasi masalah pekerjaan mereka dan memperkuat keterlibatan mereka dengan pekerjaan mereka dan dengan organisasi tersebut.
2.    Komunikasi ke bawah
    Komunikasi ke bawah ini merupakan sebuah komunikasi yang mengalir dari tingkat atasan (jabatan yang lebih tinggi) kepada tingkat yang lebih rendah (jabatan yang lebih rendah). komunikasi kebawah mempunyai 5 tujuan pokok yaitu:
1)Memberikan pengarahan atau instruksi kerja tertentu
2)Memberikan informasi mengapa suatu pekerjaan harus dilaksanakan
3)Memberikan informasi tentang prosedur dan praktik organisasional
4)Memberikan umpan balik pelaksanaan kerja kepada para karyawan
5)Menyajikan informasi mengenai aspek ideologi dalam membantu   organisasi menanamkan
    pengertian tentang tujuan yang ingin dicapai.
   Salah satu kelemahan saluran komunikasi dari atas ke bawah ini adalah kemungkinan terjadinya penyaringan atau sensor informasi penting yang ditujukan kepada para bawahan.

3.   Komunikasi horizontal
      Komunikasi horizontal adalah komunikasi yang terjadi antara dua orang atau lebih yang posisinya setara.
4.     Komunikasi informal
     Komunikasi Informal yang terjadi karena adanya komunikasi antara sesama karyawan dalam suatu organisasi. Komunikasi informal (the grapevine) biasanya disebarluaskan melalui desas-desus atau kabar angin dari mulut ke mulut dari satu orang ke orang yang lainnya dalam suatu organisasi dimana kebenarannya tidak bisa dijamin karena kadang-kadang bertentangan dengan perusahaan. Jadi agar komunikasi informal bisa bermanfaat maka seseorang pemimpin harus bisa memakai jalur ini untuk memperlancar berjalannya komunikasi formal perusahaan (komunikasi formal ini jangan sampai mengakibatkan timbulnya desas-desus yang meresahkan karyawan).

Faktor Yang Mempengaruhi Komunikasi Organisasi
1.      Pengetahuan tentang komunikasi dan keterampilan berkomunikasi.
Yang dimaksudkan adalah penguasaan bahasa dan keterampiIan mempergunakan bahasa; keterampilan mempergunakan media komunikasi untuk mempermudah proses pengertian pada resipiens; kemampuan untuk mengenal dan menganalisis situasi pendengar sehingga dapat memberikan sesuatu yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Di samping itu jenis hubungan antara komunikator dan resipiens dapat juga mempengaruhi efektivitas proses komunikasi.
2.      Sikap komunikator
Sikap komunikator seperti agresif (menyerang) atau cepat membela diri, sikap yang mantap dan meyakinkan; sikap rendah hati, rela mendengar dan menerima anjuran dapat memberi dampak yang besar dalam proses komunikasi retoris.
3.      Pengetahuan umum
Demi efektivitas dalam komunikasi retoris, komunikator se-baiknya memiliki pengetahuan umum yang luas, karena dengan begitu dia dapat mengenal dan menyelami situasi pendengar dan dapat mengerti mereka secara lebih baik. Dia harus mengetahui dan menguasai bahan yang dibeberkan secara mendalam, teliti dan tepat. Dia juga hendaknya mengetahui dan mengerti hal-hal praktis dari kehidupan harian para pendengarnya, supaya dapat menyampaikan sesuatu yang mampu menggugah hati mereka.
4.      Sistem social
Setiap komunikator berada dan hidup di dalam sistem masyarakat tertentu. Posisi, pangkat atau jahatan yang dimiliki komunikator di dalam masyarakat sangat mempengaruhi efektivitas komunikasi retoris (misalnya: sebagai pemimpin atau bawahan; sebagai orang yang berpengaruh atau tidak).
5.      Sistem kebudayaan
Di samping sistem sosial, sistem kebudayaan yang dimiliki se-orang komunikator juga dapat mempengaruhi efektivitas komunikasi retoris. Tingkah laku, tata adab dan pandangan hidup yang diwarisinya dari suatu kebudayaan tertentu akan juga mempengaruhi efektivitas dalam proses komunikasi retoris dengan manusia lain.

Hambatan Komunikasi Dalam Organisasi
1.   Hambatan dari Proses Komunikasi
     Hambatan dari pengirim pesan, misalnya pesan yang akan disampaikan belum jelas bagi dirinya atau pengirim pesan, hal ini dipengaruhi oleh perasaan atau situasi emosional.
a) Hambatan dalam penyandian/symbol. Hal ini dapat terjadi karena bahasa yang dipergunakan tidak jelas sehingga mempunyai arti lebih dari satu, simbol yang dipergunakan antara si pengirim dan penerima tidak sama atau bahasa yang dipergunakan terlalu sulit.
b) Hambatan media, adalah hambatan yang terjadi dalam penggunaan media komunikasi, misalnya gangguan suara radio dan aliran listrik sehingga tidak dapat mendengarkan pesan.
c) Hambatan dalam bahasa sandi. Hambatan terjadi dalam menafsirkan sandi oleh si penerima
d) Hambatan dari penerima pesan, misalnya kurangnya perhatian pada saat menerima /mendengarkan pesan, sikap prasangka tanggapan yang keliru dan tidak mencari informasi lebih lanjut.
e) Hambatan dalam memberikan balikan. Balikan yang diberikan tidak menggambarkan apa adanya akan tetapi memberikan interpretatif, tidak tepat waktu atau tidak jelas dan sebagainya.
2. Hambatan Fisik
Hambatan fisik dapat mengganggu komunikasi yang efektif, cuaca gangguan alat komunikasi, dan lain lain, misalnya: gangguan kesehatan (cacat tubuh misalnya orang yang tuna wicara), gangguan alat komunikasi dan sebagainya.
3. Hambatan Semantik
Faktor pemahaman bahasa dan penggunaan istilah tertentu. Kata-kata yang dipergunakan dalam komunikasi kadang-kadang mempunyai arti mendua yang berbeda, tidak jelas atau berbelit-belit antara pemberi pesan dan penerima pesan. Misalnya : adanya perbedaan bahasa ( bahasa daerah, nasional, maupun internasional), adanya istilah – istilah yang hanya berlaku pada bidang-bidang tertentu saja, misalnya bidang bisnis, industri, kedokteran, dll.
4. Hambatan Psikologis
Hambatan psikologis dan sosial kadang-kadang mengganggu komunikasi, misalnya; perbedaan nilai-nilai serta harapan yang berbeda antara pengirim dan penerima pesan, sehingga menimbulkan emosi diatas pemikiran-pemikiran dari sipengirim maupun si penerima pesan yang hendak disampaikan.
5. Hambatan Manusiawi
Terjadi karena adanya faktor, emosi dan prasangka pribadi, persepsi,
kecakapan atau ketidakcakapan, kemampuan atau ketidakmampuan alat-alat
pancaindera seseorang, dll.




Referensi :


 

XOXO -KISSES and HUG- Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei